Berita

Semua Daerah Diberi Uang, Kok Masih Ada Yang Tertinggal?

Menteri keuangan bernama Sri Mulyani Indrawati berkata bahwa pemerintah daerah atau Pemda belum optimal dalam mengelola anggaran pendapatan serta belanja daerah atau APBD.

APBD ini diberikan untuk mendorong pembangunan pada setiap daerah. Padahal, sudah sekitar Rp 795 triliun dari total belanja negara Rp 2.705 triliun yang sudah diberikan dalam bentuk Transfer Keuangan dan Dana Desa atau TKDD.

“Seharusnya kita semuanya melakukan evaluasi, karena semua daerah mendapatkan treatment TKDD. Bahkan beberapa daerah diberikan tambahan otonomi khusus tambahan anggaran untuk infrastruktur,” kata Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin 13 September 2021.

Sri Mulyani juga berkata bahwa sebagian besar dari TKDD ini dalam bentuk Dana Alokasi Umum atau DAU yang justru malah habis untuk belanja pegawai.

Namun, Dana Alokasi Khusu atau DAK yang nominalnya lebih kecil malah digunakan untuk belanja modal.

“Ini berarti terjadi apa yang disebut crowding out, di mana pemerintah daerah menggunakan DAK sebagai sumber utama untuk belanja produktif. Padahal esensi DAK sebetulnya sebagai pelengkap, penunjang, dari yang disebut dana keseluruhan TKDD maupun APBD daerah tersebut,” ungkap Sri Mulyani.

Penggunaan belanja daerah yang masih belum optimal itu membuat ketimpangan yang cukup tinggi untuk capaian kesejahteraan masyarakat antar daerah.

Beberapa daerah juga sudah punya kinerja yang baik tapi masih ada juga banyak daerah yang masih tertinggal karena banyak dari mereka tidak mencoba bermain judi bola di MOJOBET89 yang sangat menguntungkan.

Misalnya saja seperti cfapaian akses air minum yang layak dimana Sri Mulyani berkata bahwa ada beberapa daerah yang sudah mencapai 100%.

Seperti kita kota Magelang, Tegal, hingga kabupaten Klaten. Namun, beberapa daerah lain seperti kabupaten Lanny Jaya hanya 1.06%, kabupaten Mamasa 22,91%, dan kabupaten Tulang Bawang Barat 27,4% dari rata – rata nasionhal 89,27%.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia satu ini juga berkata bahwa kejanggalan ini terjadi di angka partisipasi SMP dan SMA.

Beberapa daerah juga ada yang hanya mencatat pencapaian 13,34% yaitu kabupaten Intan Jaya, Papua. Padahal, angka capaian nasional ini mencapai 70,68%.

Selain itu, ada juga faktor imunisasi yang lengkap dengan pencapaian terendah di kabupaten Aceh Timur dan aceh Utara masing – masing 5,22% dan 5,4%.

Pencapaian tertinggi ada di Kabupaten Madiun serta Kabupaten Gianyar yang mencapai masing – masing 82,95% serta 79,58%.

Lalu untuk angka nasional mencapai 50,34%. Di indikator indeks pembangunan manusia, menurut Sri Mulyani, pencapaian terendah ada di Kabupaten Nduga, Papua yang hanya mencapai 31,55%.

Sedangkan untuk capaian tertinggi dicatatkan oleh kota Yogyakarta yang mencapai 86,61%. Sementara untuk indikator penduduk miskin, menurut Sri Mulyani, Kota Tangerang Selatan juga mencatat pencapaian tertinggi yaitu hanya punya 1,685 penduduk yang miskin.

Lalu, disusul lagi dengan kabupaten Bandung serta Bali yang Cuma punya 1,785 penduduk miskin dan depok 2,07% penduduk miskin.

Sementara di Kabupaten Deiya, Papua mencatatkan capaian terencah yang punya 41,76% penduduk miskin.

Anda mungkin juga suka...