Saham

Prediksi Harga Right Issue BBRI, Investor Harus Tahu!

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) akan mengerjakan agenda penambahan modal dengan memberikan Hak Mengorder Efek Secara Dulu (HMETD) atau rights issue.

Kemudian juga agenda penyetoran saham dalam format kecuali uang (Inbreng) oleh Negara Republik Indonesia selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP) perseroan.

Dengan dua aksi korporasi ini, karenanya BBRI akan menjadi pemegang saham mayoritas pada PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM, sebagai komponen dari penyusunan Holding BUMN Ultra Mikro.

Berikutnya, BBRI bersama-sama dengan Pegadaian dan PNM akan memaksimalkan bisnis melewati pemberian jasa keuangan di segmen ultra mikro, sehingga akan berkontribusi positif kepada daya kerja keuangan perseroan.

Menurut prospektus yang dipublikasikan Selasa 15 Juni 2021 manajemen BBRI mengungkapkan pemerintah bermaksud menyusun Holding Ultra Mikro dengan BBRI sebagai induk dari Pegadaian dan PNM.

Sehubungan dengan itu, BBRI merencanakan Penambahan Modal HMETD dengan keterlibatan Pemerintah di dalamnya melewati HMETD dalam format non tunai.

Terkait pengerjaan hal yang demikian, Pemerintah akan menyetorkan segala saham Seri B miliknya (Inbreng\\\”) terhadap BBRI dalam Pegadaian dan PNM. Agenda PMHMETD atau rights issue BBRI dan agenda Inbreng, berikutnya, secara bersama-sama disebut agenda transaksi.

Perseroan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 28.677.086.000 saham Seri B dengan skor nominal Rp 50, atau mewakili sebanyak-banyaknya 23,25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Dengan adanya aksi korporasi ini, aset BBRI berpotensi melejit cepat. Per Q1 2021 dikala ini aset BBRI tercatat sebesar Rp 1.411 triliun nantinya pasca aksi korporasi aset BBRI tercatat akan melejit ke angka Rp 1.515 triliun atau kenaikan sebesar 7,37%.

Meski dari sisi liabilitas, meskipun bertambah, secara nominal tentunya tak sebesar penambahan aset. Per kuartal pertama 2021 tercatat BBRI mempunyai liabilitas sebesar Rp 1.216 triliun walaupun pasca rights issue nantinya liabilitas akan naik 6% menjadi menjadi 1.289 triliun.

Kenaikan aset dan liabilitas ini tentunya akan menyebabkan ekuitas BBRI bertambah pasca HMETD, di mana ekuitas per akhir Maret 2021 berada di angka Rp 191 triliun menjadi Rp 226 triliun atau kenaikan 18,32%.

Nantinya sesudah aksi korporasi ini laba bersih perseroan akan meningkat kencang dari posisi Q1 2021 di angka Rp 7 triliun menjadi Rp 8 triliun atau melesat 14%.

Seandainya disetahunkan nantinya BBRI akan kapabel mencetak laba Rp 32 triliun per tahun. Melejit 72% dari posisi tahun lalu di angka Rp 18,65 triliun.

Malahan nantinya, aset dan ekuitas BBRI pasca rights issue berpotensi kembali meningkat mengingat adanya potensi pemegang saham publik juga akan ikut serta menyetorkan modal dalam format dana segar.

Jumlah dana segar yang akan diterima ini memang belum pasti, sebab harga tebus RI BBRI masih belum diatur dan tentunya akan tergantung pula dari atensi pasar meresap RI ini.

Padahal demikian, tanpa bermaksud mendahului, Regu Riset CNBC Indonesia mencoba menghitung berapa sangkaan harga penebusan rights issue BBRI dan berapa rasio RI yang diperoleh oleh pemodal.

Berdasarkan keterbukaan isu yang diterbitkan, perseroan disebut siap menerbitkan sebanyak-banyaknya 28.677.086.000 lembar saham baru.

Ketika ini jumlah saham beredar BBRI berada di angka 123.345,810,000 lembar saham karenanya rasio RI kali ini akan berada di kisaran 10:43.

Karenanya tiap-tiap pemodal yang membatasi 43 lembar saham lama akan menerima 10 HMETD yang bisa dipakai untuk menebus 1 saham baru di harga yang telah diatur.

Tentunya berapa harga tebus RI kali ini akan benar-benar bertumpu kepada valuasi Pegadaian dan PNM yang nantinya tentu saja akan diukur dan divaluasi oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) independen.

Akan tapi kalau berasumsi nantinya Pegadaian dan PNM akan divaluasi sebesar 1 kali skor bukunya (book value) karenanya harga tebus RI akan berada di kisaran Rp 2.150/unit walaupun kalau kedua perseroan divaluasi di angka 1,5 kali buku karenanya harga tebus akan berada di kisaran Rp 3.225/unit.

Meski untuk valuasi PNM & Pegadaian di angka 2 kali buku karenanya harga tebus RI akan berada di kisaran Rp 4.301/unit.

Berikutnya kalau menilik harga rata-rata terakhir BBRI di pasar reguler selama 90 hari terakhir yang dapat juga dibuat rujukan PSP untuk menetapkan harga penebusan RI karenanya harga rata-rata 90 hari terakhir BBRI berada di angka Rp 4.387/unit

Meski dari informasi yang beredar di kalangan para pelaku pasar sendiri harga penebusan RI BBRI kali ini akan berada di kisaran satu sampai dua kali skor buku BBRI dikala ini atau di angka Rp 1.554/unit sampai Rp 3.108/unit.

Bagi para investor yang bosan bermain dengan saham, kalian bisa coba beralih ke permainan judi online bersama bandar slot terpercaya 2021. Ada banyak keuntungan yang bisa kalian dapatkan disini lho.

Anda mungkin juga suka...