Berita

PPKM Mikro Darurat Akan Diterapkan, Saham – Saham Ini Harus Dipantau!

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyatakan, PPKM mikro darurat akan segera dilakukan dalam waktu dekat. Hal itu disampaikan Jokowi saat membuka acara Munas ke-VII Kamar Dagang Industri atau Kadin di Kendari, Sulawesi Tenggara.

“Ini upaya yang terus kita lakukan dan hari ini ada finalisasi kajian,” kata Jokowi seperti dikutio dari Channel Youtube Sekretarian Presiden, Rabu (30/6).

Jokowi beralasan, PPKM mikro darurat dilakukan karena lonjakan yang sangat tinggi daripada kasus Covid-19 di Indonesia. Terkait kebijakan yang akan diterapkan dalam aturan baru tersebut, Jokowi mempercayakan hal itu kepada Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

“Ini diketuai Pak Airlangga untuk memutuskan diberlakukannya PPKM Mirko darurat, enggak tahu keputusannya 1 minggu atau 2 minggu (diberlakukannya PPM Mikro darurat),” jelas Jokowi.

Jokowi merinci, PPKM Miro darurat yang akan diterapkan di Pulau Jawa dan Bali mencakup 44 kabupaten/kota dan 6 provinsi. Menurut asesmen detil dilakukan, nilai diperolehnya adalah 4 sesuai indikator World Health Organization (WHO).

“Jadi ini memerlukan treatment khusus yang ada di dalam indikator laju penularan WHO,” wanti Jokowi.

Khusus di Jakarta, Jokowi mencontohkan, Jakarta Barat diketahui sudah hampir semua terpapar Covid-19 di RT dan RW nya. Sehingga kebijkan PPKM Mikro darurat bersifat mendesak.

“Sehingga harus ada sebuah keputusan yang tegas untuk menyelesaikan masalah ini,” kata Jokowi.

Tingginya kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia mendorong pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro yang lebih ketat pada 2-20 Juli 2021 mendatang.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Setya Ardiastama mencermati, PPKM Mikro yang lebih ketat diproyeksi akan memperlambat kembali kinerja sejumlah emiten.

Oleh karena itu, pergerakan harga saham akan ikut tertekan. Walau begitu, langkah ini memang diperlukan untuk memperbaiki kondisi di tengah pandemi Covid-19 agar kepercayaan diri pelaku usaha maupun pelaku pasar kembali meningkat.

Di bulan Juli 2021 nanti, Okie memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan menguat walau lebih terbatas. IHSG diproyeksi akan bergerak di kisaran level 5.834 hingga 6.170.

“Perbaikan kinerja emiten pada kuartal kedua, serta progres pemulihan dari konsumsi dinilai dapat menjadi trigger ,” kata Okie kepada Kontan.co.id, Rabu (30/6).

Dia menambahkan, pergerakan saham-saham sektor ritel berpotensi tertekan dan menjadi pemberat. Sektor ritel terdampak dengan adanya waktu operasional mal yang lebih singkat.

Asal tahu saja, jam operasional mal dan restoran yang semula diizinkan beroperasi hingga pukul 20.00 akan dibatasi hingga pukul 17.00 saja. Selain itu, masyarakat diperkirakan cenderung menahan pengeluarannya, sehingga memicu perlambatan kinerja emiten ritel di kuartal ketiga nanti.

Akan tetapi secara keseluruhan, Okie masih optimistis kinerja emiten ritel masih akan lebih baik dibandingkan tahun lalu. Hal ini beriringan dengan perkembangan vaksinasi yang dinilai membantu menciptakan herd immunity.

“Saat ini pengetatan aktivitas masih berlangsung, namun kami melihat adanya perbaikan dari pola konsumsi masyarakat pada tahun ini,” imbuhnya. Okie pun mempertahankan rating netral untuk saham-saham di sektor ritel.

Sementara Analis Erdhika Elit Sekuritas Regina Fawziah menanggapi, emiten sektor ritel memang berpotensi mengalami tekanan dari sisi penjualan offline. Akan tetapi, emiten masih bisa memaksimalkan peluang dari platform digital atau penjualan online.

Di sisi lain Regina mencermati, PPKM Mikro Darurat akan lebih berdampak pada pergerakan saham-saham yang berkaitan dengan sektor pembangunan infrastruktur, transportasi, dan manufaktur.

PPKM Mikro Darurat akan menghambat kinerja dan produksi emiten-emiten tersebut, walaupun dampaknya tidak akan sesignifikan tahun lalu.

Oleh karena itu, terhadap saham-saham sektor tersebut, Regina cenderung menyarankan untuk menghindarinya terlebih dahulu. Beberapa saham yang lebih baik dihindari seperti GIAA, BIRD, dan ASSA.

“Atau kalau mau masuk, harus perhatikan lagi histori fundamental perusahaan tersebut selama terkena dampak dari adanya Covid-19 saat ini seperti apa,” ujar Regina kepada Kontan.co.id, Rabu (30/6).

Dia menambahkan, selama pandemi Covid-19 masih berlangsung, saham-saham sektor tersebut masih belum direkomendasikan. Apalagi untuk sektor infrastruktur yang masuk ke dalam sub industri heavy constructions & civil engineering seperti WSKT dan WIKA.

Akan tetapi, untuk sektor infrastruktur dengan sub industri wireless telecommunication services dan integrated telecommunication service seperti TOWR, TBIG, TLKM, ISAT, dan EXCL dianggap masih bisa dicermati.

Anda mungkin juga suka...