Berita

Sri Mulyani: Generasi Muda Harus Paham Banyak Hal, Termasuk Urus Negara

Lima puluh tahun yang lalu, teknologi tidak pernah dibayangkan dapat menjadi semaju sekarang. Keterbatasan teknologi ini menjadi pembeda antara kehidupan generasi sebelumnya dengan anak muda saat ini.

Teknologi, informasi dan pilihan menjadi tiga tantangan tersendiri yang harus dihadapi generasi muda. Ketiga hal ini akan berpengaruh dengan prinsip dasar mereka sebagai manusia.

“Jadi, saat ini adalah waktu yang sangat berbeda bagi anak muda. Dan itulah tantangannya. Jadi apa yang harus menjadi prinsip dasarnya? Pertama, kembangkan karakter  dan kedua perluas perspektifnya,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada Governors’ Seminar bertema Lessons from 50 Years of Asian Development and Implications for the Future, sebagai bagian dari acara Asian Development Bank (ADB) Annual Meeting di Jepang.

Terkait prinsip terserbu, menurut Sri Mulyani, integritas adalah karakter yang sangat penting dalam mengejar setiap cita-cita yang diimpikan.

Saat ini, dunia semakin menyempit karena teknologi, sehingga setiap orang dapat menjadi “global citizen”. Oleh karena itu, dunia akan menjadi tanggung jawab bersama.

“Anak muda harus saling mengerti satu sama lain, tidak hanya karena senegara, warna kulit sama, agama sama, atau bahasa sama,” tambahnya.

Selanjutnya, penting untuk dapat memperluas perspektif mengenai berbagai negara, tidak terbatas pada negara sendiri.

Saat ini, banyak negara menghadapi permasalahan unik masing-masing. “Jepang menghadapai populasi yang menua, Fiji punya bonus demografi, dan Indonesia dengan populasi besar di mana kebanyakan berusia di bawah 40 tahun,” katanya.

Oleh karena itu, generasi muda haruslah dapat memikirkan kerja sama antar negara, agar tercipta kesejahteraan bagi semua.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berpesan kepada generasi muda Indonesia untuk memahami banyak hal termasuk bagaimana cara mengurus negara. Pasalnya, mereka akan menjadi penerus bangsa ke depan nantinya.

“Generasi muda harus memahami banyak hal termasuk bagaimana mengurus negara ini, bagaimana kita bisa mampu bersama menjaga kepentingan bangsa dan negara kita, membangun karakternya, membangun skill dan kemampuannya membangun pendidikan dan kemampuan mereka untuk terus menjadi generasi yang sehat dan produktif,” katanya dalam webinar Pajak Bertutur 2021, Rabu 25 Agustus 2021.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengingatkan bahwa banyak tantangan yang akan dihadapi generasi muda ke depan seperti teknologi digital dan ancaman perubahan iklim.

Pengetahuan yang besar adalah modal untuk menghadapinya, salah satunya pengetahuan soal kesadaran pajak.

“Ini ditujukan untuk mewujudkan cita-cita kita, generasi emas Indonesia yang cerdas dan sadar pajak,” jelasnya.

Sri mulyani juga menjelaskan bahwa peran pajak sangat penting untuk menjadi tulang punggung bagi suatu negara.

Di masa pandemic Covid – 19 seperti ini misalnya, pajak turur berkontribusi untuk perlindungan sosial hingga intensif dunia usaha demi menjaga daya beli masyarakat.

“Tidak ada negara merdeka di manapun di dunia yang tidak mengumpulkan penerimaan pajak. Negara yang kuat yang mampu mengumpulkan secara baik, mempertanggungjawabkan, menjaga agar seluruh penerimaan negara bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Karena itulah, pihaknya akan terus melakukan reformasi di bidang perpajakan dengan cara memperbaiki di bidang administrasi dan sumber daya manusia di organisasinya. Selain itu juga edukasi dan sosialisasi tentang pajak akan dilakukan sejak dini melalui sekolah.

“Besar harapan saya di masa nanti generasi muda, apapun profesi yang nanti kalian akan pilih apakah akan menjadi wiraswasta, birokrat, pengajar, pegawai kreatif atau menjadi pekerja kreatif, apapun pilihan profesi Anda, Anda telah dibekali dengan kesadaran pentingnya menyisihkan sebagian penerimaan Anda bagi negara dalam bentuk pajak,” harapnya.

Anda mungkin juga suka...