Berita

Ethereum Melesat, Bitcoin Malah Loyo!

Harga mata uang kripto (cryptocurrency) terpantau bergerak beragam dengan mayoritas masih menguat pada perdagangan Kamis (1/7/2021) pagi waktu Indonesia, di mana investor mulai melakukan kembali aksi jual di sebagian kripto.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 09:00 WIB, mayoritas pergerakan harga tujuh kripto dengan kapitalisasi terpantau beragam.

Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua, yakni Ethereum melesat 4,6% ke level harga US4 2.262,67 / koin atau setara dengan Rp 32.808.715 / koin (asumsi kurs Rp 14.500 / US$), Binance Coin menguat 1,23% ke US$ 302,18 / koin (Rp 4.381.610 / koin), dan Cardano tumbuh 0,8% ke US$ 1,37 / koin (Rp 19.865 / koin).

Sedangkan untuk kripto Tether masih stagnan di level US$ 1 per koinnya atau setara dengan Rp 14.500 per koinnya

Sementara untuk kripto terbesar dan ternama, Bitcoin tercatat merosot ke level harga US$ 34.972,72 / koin atau setara dengan Rp 507.104.440 / koin, Dogecoin terjerembab ke US$ 0,2518 / koin (Rp 3.651 / koin), dan Ripple melemah 0,56% ke US$ 0,6942 / koin (Rp 10.066 / koin).

Pada perdagangan Rabu (30/6/2021) kemarin, Bitcoin diperdagangkan lebih rendah karena para trader kembali melakukan aksi ambil untung (profit taking) pada penutupan Juni.

Aksi profit taking yang mulai terjadi di kripto dipicu oleh tindakan keras pemerintahan beberapa negara dan kekhawatiran investor tentang kebijakan moneter yang lebih ketat, masalah lingkungan, dan perlambatan permintaan investor institusional.

“Perubahan harga memperkuat gagasan bahwa volatilitas adalah bagian mendasar dari pasar yang baru lahir dan berkembang,” kata Steve Elrich, CEO Voyager Digital, sebuah perusahaan pertukaran kripto, dalam email kepada CoinDesk.

Pada Juni, Bitcoin masih mengungguli kripto dari sisi kapitalisasi pasarnya, namun kapitalisasi pasar Bitcoin turun 2,7% pada Juni tahun ini, dibandingkan penurunan lebih dari 30% pada Ripple, EOS, dan ChainLink.

Walaupun begitu, volatilitas Bitcoin dan Ethereum masih cukup tinggi, meskipun lebih rendah dari volatilitas tertingginya di Januari 2020. Kedua kripto ‘big cap’ tersebut telah mengalami perubahan volatilitas yang ekstrem selama setahun terakhir.

Di lain sisi, hashrate Bitcoin telah stabil setelah jatuh selama 10 hari beruntun dan pakar industri berspekulasi bahwa dampak terburuk dari tindakan keras penambangan China baru-baru ini mungkin sudah berakhir.

Berdasarkan data dari Glassnode, Bitcoin 7-Day average hashrate berada di 90,6 EH/s pada Selasa 29 juni 2021, naik sedikit dari 90,5 EH/s pada Senin 28 Juni 2021. Jumlah tersebut masih turun sekitar setengah dari tingkat puncak yang dicapai pada pertengahan Mei lalu.

“Mayoritas pengurangan hashrate berasal dari langkah China yang menutup operasi penambangan kripto di negaranya, dengan lebih sedikit dari Iran,” kata Sam Doctor, chief strategy officer di BitOoda, platform layanan keuangan aset digital.

“Kami percaya tidak banyak hashrate aktif yang tersisa di China,” kata Doctor dalam email kepada CoinDesk.

Sebagai informasi, mengutip dari Indodax, Hashrate adalah alat ukur dari processing power yang dimiliki oleh jaringan Bitcoin untuk menjalankan perhitungan algoritma matematika dan mengamankan setiap transaksi yang terjadi.

Anda mungkin juga suka...